Kumpulan Banten / Sesaji


1. Banten Daksina

Daksina mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut:

• Permohonan pada Hyang Widhi, agar Beliau berkenan melimpahkan wara nugrahaNya sehingga mendapat keselamatan.

• Sebagai wujud rasa syukur / terima kasih yang dalam “Yadnya Patni”, disebutkan daksina selalu menyertai banten-banten yang agak besar dan sebagainya perwujudan atau pertapakan.

• Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan bahwa Daksina melambangkan Hyang Guru / Hyang Tunggal

Unsur-Unsur Daksina, mempunyai makna sebagai Stana Hyang Widi atau Bhuana Agung, sebagai berikut :

1. Alas bedogan / srembeng / wakul / katung, terbuat dari janur / slepan yang bentuknya bulat dan sedikit panjang serta ada batas pinggirnya. Alas Bedogan ini lambang pertiwi unsur yang dapat dilihat dengan jelas.

2. Bedogan / srembeng / wakul / katung / srobong daksina, terbuat dari janur / slepan yang dibuat melingkar dan tinggi, seukuran dengan alas wakul. Bedogan bagian tengah ini adalah lambang Akasa yang tanpa tepi. Srembeng daksina juga merupakan lambang dari hukum Rta (Hukum Abadi tuhan)

3. Tampak, dibuat dari dua potongan janur lalu dijahit sehinga membentuk tanda tambah. Tampak adalah lambang keseimbangan baik makrokosmos maupun mikrokosmos, dalam tradisi tantra, tapak dara melambangkan Ibu Pertiwi Bapa Akasa, tampak juga melambangkan swastika, yang artinya semoga dalam keadaan baik.

4. Beras, yang merupakan makanan pokok melambang dari hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan manusia di dunia ini. Hyang Tri Murti (Brahma, Visnu, Siva)

5. Sirih temple / Porosan dan Kembang : terbuat dari daun sirih (hijau – wisnu), kapur (putih – siwa) dan pinang (merah – brahma) diikat sehingga menjadi satu, porosan adalah lambang pemujaan sang Hyang Tri Murti. Juga ada beberapa yang memaknainya sebagai simbol kekuatan Kama untuk manifestasi Hyang Widhi Wasa sebagai Hyang Semara. Kembang sebagai lambang Niat Suci dan kebersihan hati.

6. Kelapa, adalah simbol Pawitra (air keabadian/amertha) atau lambang alam semesta yang terdiri dari tujuh lapisan (sapta loka dan sapta patala), kelapa memiliki tujuh lapisan ke dalam dan tujuh lapisan ke luar. Air lambang Mahatala, Isi lembutnya lambang Talatala, isinya lambang tala, lapisan pada isinya lambang Antala, lapisan isi yang keras lambang sutala, lapisan tipis paling dalam lambang Nitala, batoknya lambang Patala. Sedangkan lambang Sapta Loka pada kelapa yaitu : Bulu batok kelapa lambang Bhur loka, Serat saluran lambang Bhuvah loka, Serat serabut basah lambang svah loka, Serabut basah lambang Maha loka, serabut kering lambang Jnana loka, kulit serat kering lambang Tapa loka, Kulit kering lambang Satya loka Kelapa dikupas dibersihkan hingga kelihatan batoknya artinya karena Bhuana Agung sthana Hyang Widhi tentunya harus bersih dari unsur-unsur gejolak indria yang mengikat dan serabut kelapa adalah lambang pengikat indria.

7. Telor Itik, dibungkus dengan ketupat telor, lambang awal kehidupan / getar-getar kehidupan , lambang Bhuana Alit yang menghuni bumi ini, karena pada telor terdiri dari tiga lapisan, yaitu Kuning Telor / Sari lambang Antah karana sarira, Putih Telor lambang Suksma Sarira, dan Kulit telor adalah lambang Sthula sarira, dipakai telur itik karena itik dianggap suci, bisa memilih makanan, sangat rukun dan dapat menyesuaikan hidupnya (di darat, air dan bahkan terbang bila perlu)


8. Pisang, Tebu dan Kojong sebagai persembahan, namun ada yang mengartikan kalau Pisang dan tebu itu adalah simbol manusia yang menghuni bumi sebagai bagian dari alam ini. Idialnya manusia penghuni bumi ini hidup dengan Tri kaya Parisudhanya. Kalau dalam arti daksina sebagai wujud Hyang Tungga maka dalam tetandingan daksina, Pisang melambangkan jari, Tebu melambangkan tulang.

9. Buah Kemiri, adalah simbol Purusa / Kejiwaan / Laki-laki, dari segi warna putih (ketulusan)

10. Buah kluwek / Pangi, lambang pradhana / kebendaan / perempuan, dari segi warna merah (kekuatan). Dalam tetandingan melambangkan dagu.

11. Gegantusan, merupakan perpaduan dari isi daratan dan lautan, yang terbuat dari kacang-kacangan, bumbu-bumbuan, garam dan ikan teri yang dibungkus dengan kraras / daun pisang tua lambang sad rasa dan lambang kemakmuran.

12. Papeselan, terbuat dari lima jenis dedaunan yang diikat menjadi satu lambang Panca Devata, daun duku lambang Isvara, daun manggis lambang Brahma, daun durian / langsat / ceroring lambang Mahadeva, daun salak / mangga lambang Visnu, daun nangka atau timbul lamban Siva. Papeselan juga merupakan lambang kerjasama (Tri Hita Karana).

13. Bija ratus adalah campuran dari 5 jenis biji-bijian, diantaranya, godem (hitam – wisnu), Jawa (putih – iswara), Jagung Nasi (merah – brahma), Jagung Biasa (kuning – mahadewa) dan Jali-jali (Brumbun – siwa). kesemuanya itu dibungkus dengan kraras (daun pisang tua).

14. Benang Tukelan, adalah alat pengikat simbol dari naga Anantabhoga dan naga Basuki dan naga Taksaka dalam proses pemutaran Mandara Giri di Kserarnava untuk mendapatkan Tirtha Amertha dan juga simbolis dari penghubung antara Jivatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya Pralina. Sebelum Pralina Atman yang berasal dari Paramatman akan terus menerus mengalami penjelmaan yang berulang-ulang sebelum mencapai Moksa. Dan semuanya akan kembali pada Hyang Widhi kalau sudah Pralina. dalam tetandingan dipergunakan sebagai lambung usus / perut.

15. Uang Kepeng, yang berjumlah 225 kepeng simbol Bhatara Brahma merupakan inti kekuatan untuk menciptakan hidup dan sumber kehidupan. Angka 225 (satak selae) jika dijumlah menjadi angka sembilan, angka suci lambang dewata nawa sanga yang berada di sembilan penjuru Bhuwana Agung. Uang adalah alat penebus segala kekurangan sebagai sarining manah.

16. Sesari, sebagai lambang saripati dari karma atau pekerjaan (Dana Paramitha)

17. Sampyan Payasan, terbuat dari janur dibuat menyerupai segi tiga, lambang dari Tri Kona; Utpeti, Sthiti dan Pralina.

18. Sampyan pusung, terbuat dari janur dibentuk sehingga menyerupai pusungan rambut, sesunggunya tujuan akhir manusia adalah Brahman dan pusungan itu simbol pengerucutan dari indria-indria

19. Canang sari. simbol titik, yaitu kompas, utara, timur, selatan, barat dan tengah / pusat manifestasi Hyang Widhi Wasa sebagai Hyang Panca Dewata. Makna Daksina adalah simbol manifestasi Tuhan (Hyang Widhi Wasa).

2. Banten Pejati

Banten pejati dihaturkan kepada Sanghyang Catur Loka Phala, yaitu : 

1. Peras kepada Sanghyang Iswara

2. Daksina kepada Sanghyang Brahma

3. Ketupat kelanan kepada Sanghyang Wisnu

4. Ajuman kepada Sanghyang Mahadewa

Adapun unsur-unsur banten pejati antara lain : 

1. Daksina dipergunakan sebagai persembahan / tanda terimakasih, selalu menyertai banten-banten yang agak besar dan sebagainya perwujudan atau pertapakan. 

2. Banten peras dimaksud untuk mengesahkan anak / cucu, dan bila suatu kumpulan sesajen tidak dilengkapi dengan peras akan dikatakan penyelenggaraan upacaranya dikatakan tidak sah, oleh karena itu banten peras selalu menyertai sesajen-sesajen yang lain terutama yang mempunyai tujuan tertentu.

3. Penyeneng / tehenan / pabuat dibuat untuk tujuan membangun hidup yang seimbang sejak dari lahir hingga meninggal.

4. Ketupat kelanan merupakan lambang dari sad ripu yang telah dapat dikendalikan atau teruntai oleh rohani sehingga kebijakan senantiasa meliputi kehidupan manusia. 

5. Soda / ajuman digunakan sebagai persembahan ataupun melengkapi daksina yang ditujukan kepada para leluhur.

6. Pasucian dipergunakan sebagai alat untuk menyucikan Ida Bhatara dalam suatu upacara keagamaan. 

7. Segehan digunakan untuk menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatif. 

3. Canang Sari

Canang sari dalam persembahyangan adalah kuantitas terkecil namun inti, karena dalam setiap banten atau yadnya apa pun selalu berisi Canang Sari. Canang sari sering dipakai untuk persembahyangan sehari-hari, juga mengandung salah satu makna sebagai simbol bahasa Weda untuk memohon kehadapan Sang Hyang Widhi yaitu memohon kekuatan Widya (Pengetahuan) untuk Bhuwana Alit maupun Bhuwana Agung.

Bunga setiap warna dan peletakan bunga pada canang mempunyai makna atau lambang yaitu :

  • Bunga berwarna Putih
    • disusun di Timur sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Iswara.
  • Bunga berwarna Merah
    • disusun di Selatan sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Brahma.
  • Bunga berwarna Kuning
    • disusun di Barat sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Mahadewa.
  • Bunga berwarna Biru atau Hijau
    • disusun di Utara sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Wisnu.
  • Kembang Rampai
    • disusun ditengah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Panca Dewata

4. Kewangen

Penggunaan Kewangen

Kewangen dalam penggunaanya lebih sering digunakan dalam persembahyangan, selain itu kewangen juga sebagai pelengkap dalam upakara untuk upacara Panca Yadnya. Yaitu sebagai berikut:

  1. Dewa Yadnya, sebagai pelengkap Banten Tetebasan, prascita, dan berbagai jenis sesayut.
  2. Rsi Yadnya, juga sebagai pelengkap Banten Tetebasan.
  3. Pitra Yadnya, dipakai dalam upacara menghidupkan mayat secara simbolis untuk diupacarakan yaitu pada setiap persendian tubuhnya.
  4. Manusia Yadnya, digunakan pada setiap upacara ngotonin, potong gigi, perkawinan, dan pelengkap banten.
  5. Bhuta Yadnya, digunakan dalam upacara memakuh, macaru, dll

Makna dari Sarana Kewangen

1. Kojong, biasanya dibuat dari daun pisang, dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk kojong. Kojong ini bila kita tekan sampai lempeh maka dia akan berbentuk segi tiga, maka kojong menyimbulkan angka tiga Huruf Bali (lihat huruf Ongkara Bali).

2.Pekir, dibuat sedemikian rupa menyerupai hiyasan kepala dari tarian jangger (tarian muda-mudi di Bali).dibuat dari daun janur. Bentuknya bisa kelihatan bermacam-macam , itu sangat tergantung dari seninya yang membuat. Ini merupakan simbul dari ULU ARDHA CANDRA dan NADA (tulisan huruf Bali).

3. Uang Kepeng (pipis bolong), bila tidak ada uang kepeng, maka bisa digunakan uang logam, sebab uang kepeng itu yang dipentingkan adalah bentuknya yang bundar, sebagai simbul WINDU (nol). Perlu ditekankan disini jangan menggunakan uang kertas yang diplintir akan mengurangi arti dan makna.

4. Porosan, ini ditempatkan di dalam kojong tadi hampir tidak kelihatan dari luar. Porosan ini yang terpenting adalah terdiri dari tiga unsur yaitu; daun sirih (daun lain yang wajar digunakan), daun ini yang dicari maknanya adalah warnanya yaitu berwarna Hijau, merupakan simbul dari dewa Wisnu, Huruf Balinya adalah UNGKARA, Kemudian buah sirih yang disisir sedemikian rupa, ini mewakili warna merah, simbul dari Dewa Brahma, huruf Balinya ANGKARA. Selanjutnya unsur yang ketiga adalah kapur sirih warnanya putih sibul dari dewa Iswara (Siwa), Huruf Balinya adalah MANGKARA. Ketiga-tiganya itu dijarit semat atau diikat pakai menang menjadi satu, artinya seperti uraian dibawah ini.
Jadi tiga huruf itu; A.+ U + M = AUM MENJADI ONG ( A dan U kasewitrayang dalam tata bahasa Bali). Maka ONG itu adalah huruf sebagai simbul dari Tuhan.

5.Bunga, ini sembul dari rasa cinta dan rasa bhakti.
Kesimpulannya Kewangen (bisa dibaca kwangen) adalah merupakan simbul dari Tuhan dalam bentuk tetandingan (sarana upacara).

Cara Menggunakan Kewangen Saat Sembahyang

Dalam penerapan penggunaan Kewangen, bisa dikatakan bahwa setiap umat Hindu berbeda-beda dalam menggunakannya, terutama pada posisi kewangen.  Ada yang uang kepeng (sebagai mukanya/depannya) ada yang menghadap kedepan, ada yang menghadap kekiri/kekanan, ada pula yang menghadap ke belakang (menghadap ke yang sembahyang/orang). Jadi manakah yang benar dari itu semua? Menurut sumber yang kami telusuri, dalam lontar paniti gama tirtha pawitra,  uang kepengnya menghadap kebelakang/ menghadap ke orang yang sembahyang itu yang benar.

5. Banten Yadnya Sesa / Saiban / Ngejot

5 Tempat penting menghaturkan banten yadnya sesa / saiban / ngejot, sebagai simbol dari Panca Maha Bhuta :

  1. Pertiwi (tanah),
    • biasanya ditempatkan pada pintu keluar rumah atau pintu halaman.
  2. Apah (Air),
    • ditempatkan pada sumber air, sumur / tempat air.
  3. Teja(Api),
    • ditempatkan di dapur, pada tempat memasak (tungku) atau kompor.
  4. Bayu,
    • ditempatkan pada beras,bisa juga ditempat nasi.
  5. Akasa,
    • ditempatkan pada tempat sembahyang (pelangkiran, pelinggih, dll).

6. Cok Bakal

Cok Bakal atau Gecok Bakal merupakan simbol permulaan dalam kehidupan yang berawal dari ketiadaan menjadi ada, serta merupakan simbol hubungan antara Tuhan (yang bersifat Makrokosmos) dengan manusia (yang bersifat Mikrokosmos) atau sangkan paraning dumadi. Telur menyimbolkan asal muasal, cikal bakal atau permulaan kehidupan manusia.

Masyarakat Jawa menggunakan cok bakal sebagai media awal dalam melaksanakan suatu kegiatan serta sebagai simbolik rasa syukur kepada Hyang Widhi. 

Banyak upacara adat / ritual yang menggunakan cok bakal antara lain :

  1. Awal tanam & panen padi 
  2. Pernikahan 
  3. Pembangunan rumah baru 
  4. Bersih desa 
  5. Tradisi Pitonan (Tujuh Bulanan) Bayi
  6. Tradisi adat/ upacara yg hanya ada di daerah tertentu misal larung sesaji, ruwahan, sedekah Bumi, sedekah gunung dll.

Bahan Bahan Cok Bakal :
‎1. Takir
‎2. Lidi / jiting
‎3. Telur ayam kampung
‎4. Beras
‎5. Welat / pisau dari bambu
‎6. Kunir
‎7. Brambang
‎8. Uyah / garam
‎9. Jambe
‎10. Gondong suruh
‎11. Gambir
‎12. Injet
‎13. Tegesan / rokok
‎14. Kambil / kelapa
‎15. Kluwak
‎16. Kemiri
‎17. Laos
‎18. Jahe
‎19. Kencur
‎20. Bawang putih
‎21. Ketumbar
‎22. Merica
‎23. Kedelai
‎24. Badek / air tape
‎25. Lauk teri
‎26. Kembang setaman
‎27. Pandan
‎28. Menyan
‎29. Kendil kecil
‎30. Benang lawe
‎31. Duit
‎32. Suri
‎33. Ngilon / cermin kecil

  1. Takir

Takir adalah wadah yang dibuat dari daun pisang, yang dibentuk segi empat layaknya sebuah kotak.

arti takir :

Takir berarti takeraning pikir atau nalar pikir, takir dibuat dari daun pisang raja, berbentuk segi empat, artinya setiap orang dapat padhang atau jelas, segi empat menunjukkan keblat papat / empat penjuru angin & sedulur papat. Makna selanjutnya adalah setiap orang yang melakukan upacara harus mampu mengendalikan pikiran agar dapat mengetahui dengan jelas sedulur papat yang ada dalam diri masing masing.

2. Lidi / Biting

3. Telur Ayam kampung

4. Beras

5. Welat / pisau dari bambu

6. Kunir

7. Brambang

8. Uyah / Garam

9. Jambe

10. Godong Suruh

11. Gambir

12. Injet

news-1701

yakinjp

yakinjp

maujp

MAUJP

MAUJP

MAUJP

article 48666670301

article 48666670302

article 48666670303

article 48666670304

article 48666670305

article 48666670306

article 48666670307

article 48666670308

article 48666670309

article 48666670310

article 48666670311

article 48666670312

article 48666670313

article 48666670314

article 48666670315

article 48666670316

article 48666670317

article 48666670318

article 48666670319

article 48666670320

article 48666670321

article 48666670322

article 48666670323

article 48666670324

article 48666670325

article 48666670326

article 48666670327

article 48666670328

article 48666670329

article 48666670330

article 48666670331

article 48666670332

article 48666670333

article 48666670334

article 48666670335

article 48666670336

article 48666670337

article 48666670338

article 48666670339

article 48666670340

article 48666670341

article 48666670342

article 48666670343

article 48666670344

article 48666670345

article 48666670346

article 48666670347

article 48666670348

article 48666670349

article 48666670350

article 48666670351

article 48666670352

article 48666670353

article 48666670354

article 48666670355

article 48666670356

article 48666670357

article 48666670358

article 48666670359

article 48666670360

noticias 000000031

noticias 000000032

noticias 000000033

noticias 000000034

noticias 000000035

noticias 000000036

noticias 000000037

noticias 000000038

noticias 000000039

noticias 000000040

noticias 000000041

noticias 000000042

noticias 000000043

noticias 000000044

noticias 000000045

noticias 000000046

noticias 000000047

noticias 000000048

noticias 000000049

noticias 000000050

noticias 000000051

noticias 000000052

noticias 000000053

noticias 000000054

noticias 000000055

noticias 000000056

noticias 000000057

noticias 000000058

noticias 000000059

noticias 000000060

noticias 000000061

noticias 000000062

noticias 000000063

noticias 000000064

noticias 000000065

noticias 000000066

noticias 000000067

noticias 000000068

noticias 000000069

noticias 000000070

noticias 000000071

noticias 000000072

noticias 000000073

noticias 000000074

noticias 000000075

noticias 000000076

noticias 000000077

noticias 000000078

noticias 000000079

noticias 000000080

noticias 000000081

noticias 000000082

noticias 000000083

noticias 000000084

noticias 000000085

noticias 000000086

noticias 000000087

noticias 000000088

noticias 000000089

noticias 000000090

noticias 000000091

noticias 000000092

noticias 000000093

noticias 000000094

noticias 000000095

noticias 000000096

noticias 000000097

noticias 000000098

noticias 000000099

noticias 000000100

noticias 000000101

noticias 000000102

noticias 000000103

noticias 000000104

noticias 000000105

noticias 000000106

noticias 000000107

noticias 000000108

noticias 000000109

noticias 000000110

noticias 000000111

noticias 000000112

noticias 000000113

noticias 000000114

noticias 000000115

noticias 000000116

noticias 000000117

noticias 000000118

noticias 000000119

noticias 000000120

komunitas praya menyoroti perubahan pembahasan putaran gratis mahjong ways

selong tren diskusi mahjong wins tengah munculnya game digital baru

kreator konten tanjung mengangkat cerita perkembangan mahjong ways media sosial

sumbawa besar membahas tiga elemen visual mahjong wins 3 ubin emas naga scatter

komunitas digital semarang menelaah pengaruh animasi terhadap identitas game mahjong modern

yogyakarta menjadi sorotan diskusi perpaduan tradisi asia teknologi game

pengamat surabaya mengulas perubahan gaya ilustrasi seri mahjong digital

makassar membahas peran komunitas online menyebarkan tren konten mahjong

medan hingga palembang perbedaan perspektif penggemar terhadap visual mahjong ways

denpasar menyoroti perkembangan narasi budaya asia desain game mahjong kontemporer

sweet bonanza kabupaten pangkajene kepulauan mengenal mekanisme fitur putaran gratis

gates of olympus kabupaten muara enim perpaduan kisah mitologi teknologi animasi modern

lucky neko kota langsa cara simbol tradisional menyesuaikan diri selera generasi digital

wild bandito mahjong ways kabupaten garut perbandingan dua karakter visual berbeda

warga kabupaten lebak mengkaji cara membedakan klaim permainan informasi memiliki bukti

mahjong wins kota tanjungbalai menelaah fungsi simbol membentuk pengalaman visual

mengapa efek cahaya sering muncul fitur bonus pengamatan kabupaten tapanuli utara

lucky neko kabupaten hulu sungai selatan kombinasi karakter animasi ornamen bernuansa emas

gates of olympus kabupaten aceh besar memahami konsep peluang tanpa bergantung ramalan

sweet bonanza kota gorontalo menelusuri peran desain ceria membentuk identitas game

wild bandito kabupaten halmahera utara eksplorasi tema petualangan format interaktif

mahjong pgsoft kabupaten musi banyuasin perubahan pengalaman pengguna saat bermain melalui layar ponsel

princess starlight kota palangka raya mengulas fungsi cahaya elemen penceritaan

lucky neko sweet bonanza perbedaan pendekatan warna membangun identitas desain

warga kabupaten ende menelusuri pengaruh cerita budaya terhadap pembentukan karakter game digital

mengapa pemain lebih mudah mengingat kemenangan besar penjelasan bias ingatan kota madiun

bukan hanya hiburan warga kabupaten bekasi membahas pentingnya memahami batas pengeluaran digital

mahjong ways kabupaten magetan contoh memahami fenomena ilusi pola hasil acak

gates of olympus kota pagar alam menguraikan kesalahpahaman prediksi hasil permainan

warga kabupaten flores timur mengamati pengaruh notifikasi terhadap perhatian pengguna ponsel

sweet bonanza kota sukabumi membahas perbedaan ekspektasi pengguna peluang

wild bandito mahjong wins mengapa perbedaan desain bisa menarik kelompok pengguna beragam

lucky neko kabupaten tanah laut mengkaji simbol keberuntungan perspektif lintas budaya

literasi digital kabupaten sumbawa memahami rtp agar tidak terjebak penafsiran keliru

princess starlight kota tegal menelaah kontribusi tokoh pengalaman hiburan interaktif

article 88666670351

article 88666670352

article 88666670353

article 88666670354

article 88666670355

article 88666670356

article 88666670357

article 88666670358

article 88666670359

article 88666670360

article 88666670361

article 88666670362

article 88666670363

article 88666670364

article 88666670365

article 88666670366

article 88666670367

article 88666670368

article 88666670369

article 88666670370

informasi terbaru kabupaten belu 00000021

informasi terbaru kabupaten belu 00000022

informasi terbaru kabupaten belu 00000023

informasi terbaru kabupaten belu 00000024

informasi terbaru kabupaten belu 00000025

informasi terbaru kabupaten belu 00000026

informasi terbaru kabupaten belu 00000027

informasi terbaru kabupaten belu 00000028

informasi terbaru kabupaten belu 00000029

informasi terbaru kabupaten belu 00000030

informasi terbaru kabupaten belu 00000031

informasi terbaru kabupaten belu 00000032

informasi terbaru kabupaten belu 00000033

informasi terbaru kabupaten belu 00000034

informasi terbaru kabupaten belu 00000035

informasi terbaru kabupaten belu 00000036

informasi terbaru kabupaten belu 00000037

informasi terbaru kabupaten belu 00000038

informasi terbaru kabupaten belu 00000039

informasi terbaru kabupaten belu 00000040

informasi terbaru kabupaten belu 00000041

informasi terbaru kabupaten belu 00000042

informasi terbaru kabupaten belu 00000043

informasi terbaru kabupaten belu 00000044

informasi terbaru kabupaten belu 00000045

informasi terbaru kabupaten belu 00000046

informasi terbaru kabupaten belu 00000047

informasi terbaru kabupaten belu 00000048

informasi terbaru kabupaten belu 00000049

informasi terbaru kabupaten belu 00000050

informasi terbaru kabupaten belu 00000051

informasi terbaru kabupaten belu 00000052

informasi terbaru kabupaten belu 00000053

informasi terbaru kabupaten belu 00000054

informasi terbaru kabupaten belu 00000055

informasi terbaru kabupaten belu 00000056

informasi terbaru kabupaten belu 00000057

informasi terbaru kabupaten belu 00000058

informasi terbaru kabupaten belu 00000059

informasi terbaru kabupaten belu 00000060

informasi terbaru kabupaten belu 00000061

informasi terbaru kabupaten belu 00000062

informasi terbaru kabupaten belu 00000063

informasi terbaru kabupaten belu 00000064

informasi terbaru kabupaten belu 00000065

informasi terbaru kabupaten belu 00000066

informasi terbaru kabupaten belu 00000067

informasi terbaru kabupaten belu 00000068

informasi terbaru kabupaten belu 00000069

informasi terbaru kabupaten belu 00000070

informasi terbaru kabupaten belu 00000071

informasi terbaru kabupaten belu 00000072

informasi terbaru kabupaten belu 00000073

informasi terbaru kabupaten belu 00000074

informasi terbaru kabupaten belu 00000075

informasi terbaru kabupaten belu 00000076

informasi terbaru kabupaten belu 00000077

informasi terbaru kabupaten belu 00000078

informasi terbaru kabupaten belu 00000079

informasi terbaru kabupaten belu 00000080

news-1701